Suara angin bak gemuruh alam yang mencekam
Sungguh berat ia menatap langit biru dikala itu
Indah memang,
Namun menyibak duka dan lara dihati
Mengapa ia begitu……….
Dan ia pun bertanya mengapa aku begini……….
Dalam benak kecilnya seraya mengungkap
“Apakah benar dunia ini…………..
Sebagai sandaran megah bagi kaum beremas………….
“ Apakah benar dimatanya,
Aku hanyalah sebahagian dari mereka-mereka itu yang dianggap sekumpulan sampah bercecer dipinggir jalan………..
Hinalah aku bukan dimatanya……………………
Sehelai kain kumuh dan seperlima debu jalanan itu………….
Melekat ditubuh kurusnya itu……………
Ialah seorang anak yang tumbuh bagai ilalang……………
Sungguh malang nasibnya………….
Terlihat pula disisi kedua bola matanya……….
Tersirat maksud ungkapan kata hati………………
Entahlah………..
Terasa sungguh benar aneh……………
Dari kepalan pelampiasan wujud amarah yang sungguh terlihat……
Sungguh apalah itu……………….
Tanpa ia rasakan celah ketenangan……….
Tanpa ia rasakan bathin yang selayaknya diusia itu……………
Tergait hasrat pun ditangisi……………
Kadang,
Ia meronta-ronta disepanjang kakilima………
Kadang,
Ia menangis bila lapar meracuni dahaga……….
Kadang pula,
Ia tak tahu kemana raga itu harus berpijak…………..
Betapapun ia terhina dengan seruan duka didada………..
Betapapun ia terhina dengan serbuan caci maki akan kekejaman penghuni dunia……
Oleh mereka-mereka yang mengguagah arah hidupnya yang suram…….
Oleh mereka-mereka yang rakus akan segudang materi…………..
Yang justru menghanguskan dam menghabiskan bekal masa depannya……
Marahnya sunnguh tak terhingga,
Namun apa daya diri itu sungguh tak sepantasnya menentang takdir tuhan sepenuhnya….
Sungguh mereka tahu apa yang kurasa………
Bertanya ia,
Sungguh duka apa yang menyelip dibalik kenyataan ini…………
Hingga aku tak menerima apa yang seharusnya menjadi milikku seutuhnya
Hingga mengemislah aku demia sesuap nasi yang begitu murah diujinya…
Apa yang terdengar kini……..
Jelas ditelinganya………………..
Hanyalah usapan hampa dibalik kenyataan……………..
Created by: Siti Arifa Dyana X Mandri II
Karpet Kehidupan
Dimanakah ku harus berlabuh…
Saat semua dermaga menutup pintu,
Dan berkata “ ini bukan untukmu…”
“Segara menjauh karna disini bukan tempatmu
Ya Allah…
Katakan padaku, dermaga untukku berlabuh
Agar ku segera menghela nafas kehidupan yang baru.
Sampai kapan ku harus arungi waktu,..
Ku lelah Menunggu suatu yang tak pasti walau hanya Satu
Ya Allah …
Beri aku penerang jalan-Mu
Agar tak tersesat saat ku melaju,..
Kuatkan awak kapalku,
Saat badai menghalangi jalanku
Ya Allah …
Tetaplah disisiku,
Jangan Engkau menjauh dariku…
Karna ku mati tanpa hadir-Mu
Senin, 01 Februari 2010
Selasa, 26 Januari 2010
^^Agar Engkau Menjadi Wanita Tercantik Didunia II ^^ [international Best Seller, DR.'Aidh AL-Qarni]
Perhiasanmu bukanlah emas/perak, tetapi dua rakaat menjelang subuh.
Dahagamu ditengah hari yg panas saat berpuasa.
Dermamu yang tersembunyi dan hanya diketahui oleh ALLAH semata.
Air matamu adalah, tobat dr sujud panjang diatas karpet ibadah dan
Rasa malumu kepada ALLAH tatkala tergoda bisikan nista dan ajakan syaitan.
Kenakanlah pakaian taqwa itu maka engkau menjadi wanita tercantik didunia,
meskipun baju itu kumuh.
Kenakanlah mantel kesantunan agar kau mjd wanita didunia.
Dahagamu ditengah hari yg panas saat berpuasa.
Dermamu yang tersembunyi dan hanya diketahui oleh ALLAH semata.
Air matamu adalah, tobat dr sujud panjang diatas karpet ibadah dan
Rasa malumu kepada ALLAH tatkala tergoda bisikan nista dan ajakan syaitan.
Kenakanlah pakaian taqwa itu maka engkau menjadi wanita tercantik didunia,
meskipun baju itu kumuh.
Kenakanlah mantel kesantunan agar kau mjd wanita didunia.
^^Agàr éngkau Ménjàdi Wanità tércàntik diDunià I ^^[international Best Seller; DR.'Aidh Al-Qàrni]
"Segala bentuk bencana, seberat apapun deritanya, niscaya memiliki jalan keluar yang pasti datangnya"
Dengan kecantikanmu, engkau lebih indah dr matahari.
Dengan akhlaqmu engkau lebih harum dr aroma minyak miski.
Dengan rendah hatimu engkau lbih mulia dr bulan.
Dengan kelembutanmu engkau lebih lembut dr rintik hujan.
Mka jagalah kecantikanmu dg keimanan&kerelaan, dlm menerima apa yg ada.
Dan selimuti harga dirimu dg busana taqwa dan kerudung.
Dengan kecantikanmu, engkau lebih indah dr matahari.
Dengan akhlaqmu engkau lebih harum dr aroma minyak miski.
Dengan rendah hatimu engkau lbih mulia dr bulan.
Dengan kelembutanmu engkau lebih lembut dr rintik hujan.
Mka jagalah kecantikanmu dg keimanan&kerelaan, dlm menerima apa yg ada.
Dan selimuti harga dirimu dg busana taqwa dan kerudung.
Kamis, 21 Januari 2010
``Internalisasi Nilai Islami``
"Màkà disebàbkan ràhmàt dàri ALLAH-làh kamu bérlaku lémah lémbut térhàdap mérékà.
Sékirànyà kàmu bérsikàp kéras lagi bérhati kàsar, téntulàh mérékà ménjàuhkàn diri dari sékélilingmu.
Kàrénà itu mààfkanlah mérék, mohönkànlah àmpun bàgi méréka, dàn bérmusyàwarahlàh déngàn méréka dàlàm urusan itu.
Kémudiàn àpàbilà kàmu télàh mémbulàt tékàd,
màka tàwàkallàh képàdà ALLAH.
Sésungguhnyà ALLAH ményukài orang orang yàng bértawàkal képàdànyà."
(Q.S Ali 'Imran/3:159)
Sékirànyà kàmu bérsikàp kéras lagi bérhati kàsar, téntulàh mérékà ménjàuhkàn diri dari sékélilingmu.
Kàrénà itu mààfkanlah mérék, mohönkànlah àmpun bàgi méréka, dàn bérmusyàwarahlàh déngàn méréka dàlàm urusan itu.
Kémudiàn àpàbilà kàmu télàh mémbulàt tékàd,
màka tàwàkallàh képàdà ALLAH.
Sésungguhnyà ALLAH ményukài orang orang yàng bértawàkal képàdànyà."
(Q.S Ali 'Imran/3:159)
``Sàyàp Bérduri```
``Pérjàlàn hidup yàng
téràsà méngusik..
``Méncàcinyà dàlàm célàh kéténàngàn..
``Sànubàri pàlsu tlah menghitàmkàn sémangàtnya..
``Ménjadikànnyà lémàh méngàdapi citrààn luàs dunià..
``Mélàngkahi sebérang timur..
ménémpati Gérsàng pébukitàn pérsinggahàn létihnyà..
``Andài ia màsih sànggup ményéberangi jémbatàn itu..
pàstilah mulut tyda brdebàt ragà màmpu bersabàr..
``Jikàlau angin meniup kéncang udara hari..
teréhémpaslah tubuh ringànnyà bersàmà angin angin lain..
``Sungguh bétàpà siàlnya Sàyàpku Bérduri..
téràsà méngusik..
``Méncàcinyà dàlàm célàh kéténàngàn..
``Sànubàri pàlsu tlah menghitàmkàn sémangàtnya..
``Ménjadikànnyà lémàh méngàdapi citrààn luàs dunià..
``Mélàngkahi sebérang timur..
ménémpati Gérsàng pébukitàn pérsinggahàn létihnyà..
``Andài ia màsih sànggup ményéberangi jémbatàn itu..
pàstilah mulut tyda brdebàt ragà màmpu bersabàr..
``Jikàlau angin meniup kéncang udara hari..
teréhémpaslah tubuh ringànnyà bersàmà angin angin lain..
``Sungguh bétàpà siàlnya Sàyàpku Bérduri..
^^Apresiasi Sastra^^
Komunitas sastra ibarat sampan berlayar di lautan kaca, berisi makhluk-makhluk maya,
mengarungi luasnya samudera kata-kata, hingga ada yang menggumpal menjadi
puisi, cerpen atau pun esai, bagaikan pulau-pulau tempat sampan berlabuh.
Pernah terbentuk suatu komunitas sastra yang penuh gelora kebebasan, bebas berekspresi, berkarya sastra, mengeluarkan pendapat, dan berbeda nilai karsa akan sebuah karya sekali pun. Tapi apa lacur, kebebasan itu tak semulus yang dibayangkan, manakala perbedaan pendapat adalah bencana. Kebebasan menjadi obituari dan rasa jengah yang berujung keinginan hengkang pun tak terelakkan lagi.
"Perpisahan adalah sebuah permulaan baru", atas dasar inilah sebuah pertaruhan bagi pencinta kebebasan bersastra terebak kini. "Apresiasi-Sastra" adalah sebuah pilihan. Maukah kita memulai dan menjaga komunitas sastra ini?. Hanya andalah yang mampu menjawabnya.
Mungkin kata-kata bijak di bawah ini perlu dijadikan sebagai atapnya komunitas sastra baru kita:
"Wadah yang eksklusif tak akan bertahan lama" (Mahatma Gandhi)
Salam,
*Apresiasi-Sastra*
mengarungi luasnya samudera kata-kata, hingga ada yang menggumpal menjadi
puisi, cerpen atau pun esai, bagaikan pulau-pulau tempat sampan berlabuh.
Pernah terbentuk suatu komunitas sastra yang penuh gelora kebebasan, bebas berekspresi, berkarya sastra, mengeluarkan pendapat, dan berbeda nilai karsa akan sebuah karya sekali pun. Tapi apa lacur, kebebasan itu tak semulus yang dibayangkan, manakala perbedaan pendapat adalah bencana. Kebebasan menjadi obituari dan rasa jengah yang berujung keinginan hengkang pun tak terelakkan lagi.
"Perpisahan adalah sebuah permulaan baru", atas dasar inilah sebuah pertaruhan bagi pencinta kebebasan bersastra terebak kini. "Apresiasi-Sastra" adalah sebuah pilihan. Maukah kita memulai dan menjaga komunitas sastra ini?. Hanya andalah yang mampu menjawabnya.
Mungkin kata-kata bijak di bawah ini perlu dijadikan sebagai atapnya komunitas sastra baru kita:
"Wadah yang eksklusif tak akan bertahan lama" (Mahatma Gandhi)
Salam,
*Apresiasi-Sastra*
^^Cut Nyak Dien^^
Cut Nyak Dien (1848-1908) Perempuan Aceh Berhati Baja
Diterbitkan Maret 30, 2009 Biografi Tokoh , Kumpulan Artikel Sejarah 1 Comment
Tags: Biografi, islam nusantara, sejarah, Sejarah Islam Indonesia, sejarah nusantara
Nangroe Aceh Darussalam merupakan daerah yang banyak melahirkan pahlawan perempuan yang gigih tidak kenal kompromi melawan kaum imperialis. Cut Nyak Dien merupakan salah satu dari perempuan berhati baja yang di usianya yang lanjut masih mencabut rencong dan berusaha melawan pasukan Belanda sebelum ia akhirnya ditangkap.
Pahlawan Kemerdekaan Nasional kelahiran Lampadang, Aceh, tahun 1848, ini sampai akhir hayatnya teguh memperjuangkan kemerdekaan bangsanya. Wanita yang dua kali menikah ini, juga bersuamikan pria-pria pejuang. Teuku Ibrahim Lamnga, suami pertamanya dan Teuku Umar suami keduanya adalah pejuang-pejuang kemerdekaan bahkan juga Pahlawan Kemerdekaan Nasional.
TJOET NJAK DIEN lahir pada 1848 dari keluarga kalangan bangsawan yang sangat taat beragama. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia, uleebalang VI Mukim, bagian dari wilayah Sagi XXV. Leluhur dari pihak ayahnya, yaitu Panglima Nanta, adalah keturunan Sultan Aceh yang pada permulaan abad ke-17 merupakan wakil Ratu Tajjul Alam di Sumatra Barat. Ibunda Cut Nyak Dhien adalah putri uleebalang bangsawan Lampagar.
Sebagaimana lazimnya putri-putri bangsawan Aceh, sejak kecil Tjoet Njak Dien memperoleh pendidikan, khususnya pendidikan agama. Pendidikan ini selain diberikan orang tuanya, juga para guru agama. Pengetahuan mengenai rumah tangga, baik memasak maupun cara menghadapi atau melayani suami dan hal-hal yang menyangkut kehidupan sehari-hari, didapatkan dari ibunda dan kerabatnya. Karena pengaruh didikan agama yang amat kuat, didukung suasana lingkungannya, Tjoet Njak Dhien memiliki sifat tabah, teguh pendirian dan tawakal.
Tjoet Njak Dien dibesarkan dalam lingkungan suasana perjuangan yang amat dahsyat, suasana perang Aceh. Sebuah peperangan yang panjang dan melelahkan. Parlawanan yang keras itu semata-mata dilandasi keyakinan agama serta perasaan benci yang mendalam dan meluap-luap kepada kaum kafir.
Diterbitkan Maret 30, 2009 Biografi Tokoh , Kumpulan Artikel Sejarah 1 Comment
Tags: Biografi, islam nusantara, sejarah, Sejarah Islam Indonesia, sejarah nusantara
Nangroe Aceh Darussalam merupakan daerah yang banyak melahirkan pahlawan perempuan yang gigih tidak kenal kompromi melawan kaum imperialis. Cut Nyak Dien merupakan salah satu dari perempuan berhati baja yang di usianya yang lanjut masih mencabut rencong dan berusaha melawan pasukan Belanda sebelum ia akhirnya ditangkap.
Pahlawan Kemerdekaan Nasional kelahiran Lampadang, Aceh, tahun 1848, ini sampai akhir hayatnya teguh memperjuangkan kemerdekaan bangsanya. Wanita yang dua kali menikah ini, juga bersuamikan pria-pria pejuang. Teuku Ibrahim Lamnga, suami pertamanya dan Teuku Umar suami keduanya adalah pejuang-pejuang kemerdekaan bahkan juga Pahlawan Kemerdekaan Nasional.
TJOET NJAK DIEN lahir pada 1848 dari keluarga kalangan bangsawan yang sangat taat beragama. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia, uleebalang VI Mukim, bagian dari wilayah Sagi XXV. Leluhur dari pihak ayahnya, yaitu Panglima Nanta, adalah keturunan Sultan Aceh yang pada permulaan abad ke-17 merupakan wakil Ratu Tajjul Alam di Sumatra Barat. Ibunda Cut Nyak Dhien adalah putri uleebalang bangsawan Lampagar.
Sebagaimana lazimnya putri-putri bangsawan Aceh, sejak kecil Tjoet Njak Dien memperoleh pendidikan, khususnya pendidikan agama. Pendidikan ini selain diberikan orang tuanya, juga para guru agama. Pengetahuan mengenai rumah tangga, baik memasak maupun cara menghadapi atau melayani suami dan hal-hal yang menyangkut kehidupan sehari-hari, didapatkan dari ibunda dan kerabatnya. Karena pengaruh didikan agama yang amat kuat, didukung suasana lingkungannya, Tjoet Njak Dhien memiliki sifat tabah, teguh pendirian dan tawakal.
Tjoet Njak Dien dibesarkan dalam lingkungan suasana perjuangan yang amat dahsyat, suasana perang Aceh. Sebuah peperangan yang panjang dan melelahkan. Parlawanan yang keras itu semata-mata dilandasi keyakinan agama serta perasaan benci yang mendalam dan meluap-luap kepada kaum kafir.
Langganan:
Postingan (Atom)