Karpet Kehidupan

Karpet Kehidupan

Ya Allah…

Dimanakah ku harus berlabuh…
Saat semua dermaga menutup pintu,
Dan berkata “ ini bukan untukmu…”
“Segara menjauh karna disini bukan tempatmu

Ya Allah…
Katakan padaku, dermaga untukku berlabuh
Agar ku segera menghela nafas kehidupan yang baru.
Sampai kapan ku harus arungi waktu,..
Ku lelah Menunggu suatu yang tak pasti walau hanya Satu

Ya Allah …
Beri aku penerang jalan-Mu
Agar tak tersesat saat ku melaju,..
Kuatkan awak kapalku,
Saat badai menghalangi jalanku

Ya Allah …
Tetaplah disisiku,
Jangan Engkau menjauh dariku…
Karna ku mati tanpa hadir-Mu

Kamis, 03 Juni 2010

Memahami Kemiskinan


Seorang janda membujuk dua anaknya yang sedang menangis kelaparan supaya tidur. ”Anakku, tidurlah, ibu sedang memasak makanan. Nanti kalau sudah siap, ibu bangunkan.” Ibu tersebut berulang kali mengucapkan kata-kata tersebut sambil mengusap-ngusap perut anaknya yang keroncongan.

Khalifah Umar yang sedang berkeliling melakukan inspeksi kebetulan lewat rumah tersebut dan mendengarkan jeritan kedua anak tersebut. Beliau mengetuk pintu dan menyamar sebagai rakyat biasa.

Ibu tersebut membukakan pintu setelah anaknya tidur. Sang khalifah bertanya mengapa kedua anak tersebut disuruh tidur, padahal mereka minta makan. Sang perempuan menjawab, ”Aku sama sekali tak bisa memberi mereka makan, dan yang sedang kumasak adalah sebongkah batu agar anak-anakku mengira akan punya makanan setelah bangun nanti. Ini semua salah Khalifah Umar yang tidak pernah peduli dengan nasib orang miskin seperti kami.”

Batin sang khalifah begitu tertekan mendengar ucapan wanita tersebut, dan membayangkan bagaimana pertanggungjawaban dia di hadapan Allah kelak. Tanpa berkata-kata, kemudian ia mengambil sekarung gandum dan daging dari rumahnya. Kemudian ia memasak makanan di rumah wanita tersebut. ”Sekarang, bangunkanlah anak-anakmu dan makanlah bersama mereka,” pinta sang khalifah. Kemudian perempuan tersebut berucap, ”Ya Allah, seandainya kami punya khalifah sebaik orang ini tentu tak akan ada orang yang kelaparan seperti kami.” Sang khalifah hanya tersenyum, dan kemudian pergi berpamitan. Si perempuan tidak pernah tahu bahwa pria baik hati tersebut adalah sang khalifah yang ia idamkan.

Rabu, 02 Juni 2010

Musabah Cinta



Sandal Jepit Istriku….

June 2, 2010 by akhwatfillah

Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh… betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop ini rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin nggak ketulungan. “Ummi… Ummi, kapan kau dapat memasak dengan benar…? Selalu saja, kalau tak keasinan…kemanisan, kalau tak keaseman… ya kepedesan!” Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.”Sabar bi…, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul…? ” ucap isteriku kalem. “Iya… tapi abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini…!” Jawabku dengan nada tinggi. Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya sudah merebak. *** Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan ‘baiti jannati’ di rumahku. Namun apa yang terjadi…? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal burak (pecah). Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta pora di dapur, dan cucian… ouw… berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan detergen tapi tak juga dicuci. Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada. “Ummi…ummi, bagaimana abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini…?” ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Ummi… isteri sholihat itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah…?” Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. “Ah…wanita gampang sekali untuk menangis…,” batinku berkata dalam hati. “Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihat…? Isteri shalihat itu tidak cengeng,” bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai dipipinya. “Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja untuk jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,” ucap isteriku diselingi isak tangis. “Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda…” Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak. *** Bi…, siang nanti antar Ummi ngaji ya…?” pinta isteriku. “Aduh, Mi… abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?” ucapku. “Ya sudah, kalau abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,” jawab isteriku. “Lho, kok bilang gitu…?” selaku. “Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam bus dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa,” ucap isteriku lagi. “Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja,” jawabku ringan. Pertemuan hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. “Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu,” aku membathin sendiri. Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Dug! Hati ini menjadi luruh. “Oh….bukankah ini sandal jepit isteriku?” tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus. “Maafkan aku Maryam,” pinta hatiku. “Krek…,” suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar. Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berbaya gelap dan berjilbab hitam melintas. “Ini dia mujahidahku!” pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri. Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku. Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: “Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.” Sedang aku..? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku…? terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terdzalim!!! “Maryam…!” panggilku, ketika tubuh berbaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia. “Abi…!” bisiknya pelan dan girang. Sungguh, aku baru melihat isteriku segirang ini. “Ah, kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?” sesal hatiku. *** Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. “Alhamdulillah, jazakallahu…,”ucapnya dengan suara tulus. Ah, Maryam, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud dan ‘iffah sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku…? Semoga berguna bagi kita semua….amin ya rabbal alamien takenfromnet……Buat para mujahid dakwah..renungkanlah kisah sandal jepit ini,dan tanyalah hati kita sejauh mana perhatian kita (bukan hanya soal sandal dll) terhadap sosok makhluk bernama istri di tengah2 kesibukan kita…tanya?

Senin, 01 Februari 2010

Usapan Hampa diBalik Kenyataan

Suara angin bak gemuruh alam yang mencekam
Sungguh berat ia menatap langit biru dikala itu
Indah memang,
Namun menyibak duka dan lara dihati
Mengapa ia begitu……….
Dan ia pun bertanya mengapa aku begini……….

Dalam benak kecilnya seraya mengungkap
“Apakah benar dunia ini…………..
Sebagai sandaran megah bagi kaum beremas………….
“ Apakah benar dimatanya,
Aku hanyalah sebahagian dari mereka-mereka itu yang dianggap sekumpulan sampah bercecer dipinggir jalan………..
Hinalah aku bukan dimatanya……………………

Sehelai kain kumuh dan seperlima debu jalanan itu………….
Melekat ditubuh kurusnya itu……………
Ialah seorang anak yang tumbuh bagai ilalang……………
Sungguh malang nasibnya………….
Terlihat pula disisi kedua bola matanya……….
Tersirat maksud ungkapan kata hati………………

Entahlah………..
Terasa sungguh benar aneh……………
Dari kepalan pelampiasan wujud amarah yang sungguh terlihat……
Sungguh apalah itu……………….

Tanpa ia rasakan celah ketenangan……….
Tanpa ia rasakan bathin yang selayaknya diusia itu……………

Tergait hasrat pun ditangisi……………

Kadang,
Ia meronta-ronta disepanjang kakilima………
Kadang,
Ia menangis bila lapar meracuni dahaga……….
Kadang pula,
Ia tak tahu kemana raga itu harus berpijak…………..






Betapapun ia terhina dengan seruan duka didada………..
Betapapun ia terhina dengan serbuan caci maki akan kekejaman penghuni dunia……



Oleh mereka-mereka yang mengguagah arah hidupnya yang suram…….
Oleh mereka-mereka yang rakus akan segudang materi…………..

Yang justru menghanguskan dam menghabiskan bekal masa depannya……

Marahnya sunnguh tak terhingga,
Namun apa daya diri itu sungguh tak sepantasnya menentang takdir tuhan sepenuhnya….

Sungguh mereka tahu apa yang kurasa………
Bertanya ia,
Sungguh duka apa yang menyelip dibalik kenyataan ini…………

Hingga aku tak menerima apa yang seharusnya menjadi milikku seutuhnya
Hingga mengemislah aku demia sesuap nasi yang begitu murah diujinya…

Apa yang terdengar kini……..
Jelas ditelinganya………………..
Hanyalah usapan hampa dibalik kenyataan……………..




Created by: Siti Arifa Dyana X Mandri II

Selasa, 26 Januari 2010

^^Agar Engkau Menjadi Wanita Tercantik Didunia II ^^ [international Best Seller, DR.'Aidh AL-Qarni]

Perhiasanmu bukanlah emas/perak, tetapi dua rakaat menjelang subuh.
Dahagamu ditengah hari yg panas saat berpuasa.
Dermamu yang tersembunyi dan hanya diketahui oleh ALLAH semata.
Air matamu adalah, tobat dr sujud panjang diatas karpet ibadah dan
Rasa malumu kepada ALLAH tatkala tergoda bisikan nista dan ajakan syaitan.

Kenakanlah pakaian taqwa itu maka engkau menjadi wanita tercantik didunia,
meskipun baju itu kumuh.
Kenakanlah mantel kesantunan agar kau mjd wanita didunia.

^^Agàr éngkau Ménjàdi Wanità tércàntik diDunià I ^^[international Best Seller; DR.'Aidh Al-Qàrni]

"Segala bentuk bencana, seberat apapun deritanya, niscaya memiliki jalan keluar yang pasti datangnya"

Dengan kecantikanmu, engkau lebih indah dr matahari.
Dengan akhlaqmu engkau lebih harum dr aroma minyak miski.
Dengan rendah hatimu engkau lbih mulia dr bulan.
Dengan kelembutanmu engkau lebih lembut dr rintik hujan.
Mka jagalah kecantikanmu dg keimanan&kerelaan, dlm menerima apa yg ada.
Dan selimuti harga dirimu dg busana taqwa dan kerudung.

Kamis, 21 Januari 2010

``Internalisasi Nilai Islami``

"Màkà disebàbkan ràhmàt dàri ALLAH-làh kamu bérlaku lémah lémbut térhàdap mérékà.
Sékirànyà kàmu bérsikàp kéras lagi bérhati kàsar, téntulàh mérékà ménjàuhkàn diri dari sékélilingmu.
Kàrénà itu mààfkanlah mérék, mohönkànlah àmpun bàgi méréka, dàn bérmusyàwarahlàh déngàn méréka dàlàm urusan itu.
Kémudiàn àpàbilà kàmu télàh mémbulàt tékàd,
màka tàwàkallàh képàdà ALLAH.
Sésungguhnyà ALLAH ményukài orang orang yàng bértawàkal képàdànyà."
(Q.S Ali 'Imran/3:159)

``Sàyàp Bérduri```

``Pérjàlàn hidup yàng
téràsà méngusik..
``Méncàcinyà dàlàm célàh kéténàngàn..
``Sànubàri pàlsu tlah menghitàmkàn sémangàtnya..
``Ménjadikànnyà lémàh méngàdapi citrààn luàs dunià..
``Mélàngkahi sebérang timur..
ménémpati Gérsàng pébukitàn pérsinggahàn létihnyà..
``Andài ia màsih sànggup ményéberangi jémbatàn itu..
pàstilah mulut tyda brdebàt ragà màmpu bersabàr..
``Jikàlau angin meniup kéncang udara hari..
teréhémpaslah tubuh ringànnyà bersàmà angin angin lain..
``Sungguh bétàpà siàlnya Sàyàpku Bérduri..